Kenapa Menyumbang Melalui Posko Mandiri?

21/11/2010 Comments Off on Kenapa Menyumbang Melalui Posko Mandiri?

Warga Yogyakarta dan Sekitarnya kembali mengulangi prestasi penanggulangan bencana pada Gempa Bumi 2006. Tanpa komando, tanpa prosedur berbelit, warga bergerak dan kembali membuktikan diri untuk bisa menjadi garda terdepan dalam menolong saudara-saudara kita yang menjadi korban erupsi Merapi. Mereka membuka posko-posko mandiri semampunya, tapi sangat efektif karena mereka langsung bersinggungan dengan korban.

Sungguh sangat menyentuh mendengar bahwa warga menganggap para pengungsi sebagai tamu yang harus dilayani. Membuka rumah-rumah mereka bagi para pengungsi yang membutuhkan. Warga juga tidak terbatas pada teritori administratif. Posko-posko mandiri bisa melintasi batas desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi, dalam mendistribusikan bantuan tanpa harus berpikir prosedur yang rumit. Yang ada dalam spirit kemanusiaan mereka hanya bagaimana semua bantuan bisa segera tersalurkan kepada siapa pun yang membutuhkan. Gerakan natural gotong-royong kemanusiaan semcam ini memang tidak mungkin tertandingi oleh kekuatan apa pun karena sifat ketulusannya.

Sifat ketulusan itu juga tercermin dari bagaimana format sebuah posko atau barak mandiri terbentuk, yaitu kepercayaan (trust) dan niat membantu sukarela tanpa pamrih. Prestasinya bukan piagam tanda jasa, namun sebuah monumen kemanusiaan yang terbangun di dalam jiwa masing-masing, utuh dan tidak lekang tanpa siapa pun bisa menggusurnya.

Sultan HB 10, selaku raja dan gubernur Yogyakarta, dengan rendah hati pernah menyatakan, bahwa pemerintah daerah tidak mampu membantu korban jika tidak dibantu oleh semangat gotong-royong dan kepedulian warga. Mungkin beliau mendapatkan banyak pelajaran berharga dari penanganan bencana gempa bumi 2006. Namun pemerintah pusat, yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terlalu arogan dengan tidak mau memanfaatkan posko-posko dan barak-barak pengungsian mandiri yang didirikan oleh warga untuk diberdayakan dan difasilitasi, minimal adalah kebijakan.

Di sisi lain, BNPB sebenarnya bingung dengan kondisi di lapangan yang selalu berubah, tercermin dari prosedur-prosedur berbelit dan memakan waktu. Tumpukan bantuan di posko-posko resmi pemerintah adalah contoh tidak efektifnya kinerja mereka karena bertolak belakang dengan kondisi pengungsi yang kelaparan. Bahkan mereka seperti sengaja menganaktirikan korban yang tidak tertampung di barak-barak pengungsian resmi dengan pernyataan bahwa mereka yang tidak tinggal di barak resmi tidak akan mendapatkan bantuan dengan dalih efisiensi. Pernyataan itu seperti mengingkari fungsi mereka dalam situasi bencana, yaitu sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom rakyat yang menjadi korban bencana alam.

Sebagai ilustrasi, pada saat erupsi Merapi pertama, masing-masing kabupaten yang mengelilingi Merapi; Sleman, Klaten, Boyolali, Magelang, rata-rata hanya mempunyai simpanan anggaran tanggap bencana sebesar 1 milyar rupiah. Jika hal itu dikonversi dalam kebijakan uang makan bagi pengungsi, misal sehari Rp15.000/orang/hari, maka dana itu akan habis dalam waktu tiga hari saja. Di sisi lain, proses penyaluran dana untuk penanggulangan bencana dari pemerintah pusat butuh waktu dan prosedur berbelit.

Dalam situasi demikian, posko-posko mandiri mengambil perannya yang dalam diam memberi keceriaan nyata

Sekian

Kill the DJ

Tulisan terkait: http://merapi.combine.or.id/baca/10319/berdayakan-posko-mandiri:-seruan-kepada-bnpb–pemerintah-provinsi-diy-%26-pemerintah-provinsi-jawa-tengah.html

Tagged:

Comments are closed.

What’s this?

You are currently reading Kenapa Menyumbang Melalui Posko Mandiri? at UNITED OF NOTHING.

meta

%d bloggers like this: