Resensi; Lahirnya Kembali Beringin Putih

21/11/2010 Comments Off on Resensi; Lahirnya Kembali Beringin Putih

Buku Lahirnya Kembali Beringin Putih ini menceritakan tentang mitologi yang hidup di Merapi dan dipercaya oleh penduduk desa tersebut. Sebenarnya buku ini sudah diterbitkan sejak 1998 dan sudah banyak resensi yang dipublikasikan di berbagai media. Saya kembali membaca ulang buku ini ketika bersama sahabat saya Elisabeth D Prasetyo, penulis buku ini, menengok para pengungsi dari dusun Kinahrejo, dusun asal Mbah Maridjan, di Tridadi, Sleman, mereka sedang asyik membaca foto kopi buku ini yang dibagikan oleh Marie le Sourd, direktur Lembaga Indonesia – Prancis (LIP/CCF) Yogyakarta. Mereka seolah dibawa kembali ke imipan dusun keramat Kinahrejo, tempat tinggal mereka yang sudah hancur sejak erupsi Merapi pertama 26 Oktober 2010.

Erupsi itu juga seperti merubah tatanan mitologi, karena Kinahrejo sudah binasa, karena Mbah Maridjan sudah tiada, karena Ibu Pudjo sebagai orang yang dianggap paling animis dan memahami roh Merapi juga telah meninggal. Sepertinya akan ada mitologi-mitologi baru yang kemudian lahir, tapi esensinya akan tetap sama, yaitu Merapi yang dipercaya sebagai simbol atas hubungan manusia terhadap Sang Maha Pencipta. Ketika Merapi meletus, penduduk Merapi akan menyebutnya, “Mbah Merapi lagi reresik awake lan manungsa” (Mbah Merapi sedang melakukan pembersihan diri dan manusia). Tentang hal ini, kita bisa membacanya lebih lengkap dalam artikel Sindhunata di Kompas, 21 November 2010; “Gara-gara Mbah Merapi” http://cetak.kompas.com/read/2010/11/20/05050725/gara-gara.mbah.maridjan

Mitos gunung Merapi bukan hanya dongengan, tapi kehidupan penduduk gunung Merapi itu sendiri. Mitos itulah yang membuat penduduk gunung Merapi bertahan hingga kini. Dengan mitos itu pula mereka menentang tantangan dan ancaman dari luar. Mitos itu tidak bisa ditangkap dengan akal. Kata Elisabeth, hanya dengan impian manusia bisa memahami mitos itu. Dan impian itu tidak lain adalah mata Batin, seperti yang dimiliki Mbah Marijan, Ibu Pudjo, dan banyak penduduk lain di Merapi. Jika semuanya hancur, impian itulah yang tersisa; sesuatu yang tidak bisa dihancurkan.

Pohon Beringin dalam tradisi Jawa, adalah simbol kekuasaan, namun juga simbol mengayomi, tempat berteduh bagi jelata. Buku ini ditulis dan diterbitkan seiring ketika rezim orde baru dengan simbol beringin kuningnya; Soeharto dan Golongan Karya, lengser dan tumbang 1998. Jika Beringin adalah simbol kekuasaan dan pengayoman, seharusnya Beringin berwarna putih seperti yang dipercaya penduduk lereng Merapi, bukan kuning. Demikianlah, impian itu dirajut dan terus terjaga di lereng Merapi, sebab impian tidak bisa mati.

Sempatkanlah membaca buku yang di dalamnya ada banyak ilustrasi apik yang dikerjakan oleh Heri Dono ini. Dari hasil penjualan buku Beringin Putih ini, Elisabeth menyumbangkan seperangkat gamelan bagi penduduk Kinahrejo.

ELISABETH & KILL THE DJ

Hubungan saya dengan Elisabeth memang unik, kami saling mengenal sejak 1997, tapi mulai intens berinteraksi sejak saya tinggal di Prancis tahun 2000. Dalam perbincangan, kami bisa ngobrol dari sejarah hip hop hingga spiritualisme Jawa. Dalam buku Le Histoire du Underground (The History of Underground), Elisabeth dicatat sebagai penulis kultur rap music pertama kali. Dia adalah sahabat godfather di Bronx, Afrika Bambatta dan Fredy B. Namun dia juga sahabat Mbah Maridjan. Juga salah satu orang yang sering diundang pada acara ulang tahun Dalai Lama. Bisa anda bayangkan garis waktunya; dari hip hop underground hingga spiritualisme. Dengan Elisabeth pula saya belajar banyak tentang Serat Centhini, yang kemudian beberapa syairnya saya gubah dalam lagu-lagu hip hop. Anda bisa mengunduhnya di sini; http://www.mediafire.com/?jqagdwcdw99pf

Sekian.

Kill the DJ

Tagged:

Comments are closed.

What’s this?

You are currently reading Resensi; Lahirnya Kembali Beringin Putih at UNITED OF NOTHING.

meta

%d bloggers like this: