Mengapa perlu siaga?

28/11/2010 Comments Off on Mengapa perlu siaga?

Dampak erupsi Gunung Merapi belum selesai sampai di sini. Bukan hanya soal sekian ribu pengungsi yang sekarang dipusatkan di Stadion Maguwohardjo, tetapi juga bahaya sekundernya. Seperti makna katanya, hal-hal “sekunder” mau tak mau dinomor-duakan. Bukan berarti hal-hal sekunder ini harus serta-merta diutamakan, kami selaku warga kota Yogyakarta hanya merasa berkewajiban untuk mengingatkan sesama warga. Bahaya sekunder erupsi Merapi itu ada; bahaya sekunder erupsi Merapi itu banyak bentuknya; dan ia tak kalah membahayakannya dengan letusan atau magma yang sudah berkali-kali dimuntahkan Gunung Merapi pada 2010 ini.

Salah satunya adalah: “lahar dingin”, “banjir lahar”, “lahar hujan”, atau apalah istilah yang digunakan masyarakat sekarang. Yang mana istilah yang benar bukan fokus tulisan ini. Yang penting adalah masyarakat yang hidup di bantaran kali-kali yang menjadi jalur ‘pembuangan’ material Gunung Merapi sadar akan adanya kemungkinan bahaya ini, kemudian siaga menghadapinya. Siaga artinya siap sedia. Siaga bukan was-was; walau siaga ‘dekat’ (maknanya) dengan waspada. Bagaimana caranya untuk siaga tanpa was-was? Berikut contoh dampak “lahar dingin” selaku bahaya sekunder pada saat erupsi Gunung Merapi 1994 lalu. (Perhatikan tanggal pengambilan foto; dalam waktu yang sedemikian singkat, material erupsi Merapi ‘mengisi’ Jembatan Boyong yang tingginya kurang lebih 80 meter.)

Jembatan Boyong, Desember 1994

Jembatan Boyong Februari 1995

Bersama oleh sekelompok teman pecinta alam, kami mulai menelusuri kampung-kampung di sepanjang bantaran Kali Code. Kami berbagi informasi mengenai bahaya sekunder Merapi. Mulai dari apa itu “lahar dingin”; material apa saja yang di bawanya; jalur mana saja yang akan dilalui oleh “lahar dingin” Gunung Merapi; indikator kedatangan “lahar dingin”; sampai dengan bagaimana cara menanggapinya.

Kami pun mendatangi sesama warga untuk berbagi. Kami jelas tak mampu membekali setiap tempat yang kami kunjungi dengan alat komunikasi terkini yang bisa mempermudah warga menerima informasi pemantauan hulu Kali Code. Bukan hanya alatnya yang tak mampu kami bawakan, tetapi bahkan jaringan mapan yang resmi pun belum ada. BNPB atau instansi apapun yang terkait belum menyediakan saluran resmi pemantauan kali-kali yang menjadi jalur “lahar dingin” Gunung Merapi. Sebagai sesama warga, kami hanya bisa berbagi kepedulian sebagai sesama manusia sembari mengajak warga untuk siaga secara mandiri.

Yang kami tawarkan hanyalah jaringan sederhana yang perlahan-lahan kami kembangkan sebagai pusat informasi pemantauan dari Jembatan Ngentak, Sleman, terusan Kali Boyong yang merupakan hulu dari Kali Code. Jaringan sederhana yang sudah kami bangun adalah laporan via SMS mengenai kondisi hulu Kali Boyong yang secara rutin dikirimkan setiap jam; dan juga laporan per telepon apabila kondisi di atas dinilai cukup membahayakan. Apabila pada waktunya nanti BNPB atau instansi pemerintah apapun kemudian menjalankan perannya, kami selaku warga sudah siap berkoordinasi.

Misi sederhana kami adalah:
1) Memberitahukan warga bantaran Kali Code bahwa bahaya sekunder ini ada dan bukan merupakan sesuatu yang perlu ditakuti. Yang perlu dilakukan warga bantaran Kali Code adalah siaga menghadapi kemungkinan terjadinya banjir akibat “lahar dingin” tersebut.
2) Menjadi sumber informasi terpusat bagi warga bantaran Kali Code. Informasi terpusat ini diharapkan dapat mengurangi tingkat keresahan warga yang sering kali muncul karena berita-berita miring di televisi atau sebaran SMS yang tidak bertanggungjawab.

Terus bantu kami membantu mereka!

Tagged:

Comments are closed.

What’s this?

You are currently reading Mengapa perlu siaga? at UNITED OF NOTHING.

meta

%d bloggers like this: