Gempa Yogya 2006

Rumah Boleh Roboh – Jiwa Tetap Kokoh


27 Mei 2006 pukul 5:55 Yogyakarta dan sekitarnya dilanda gempa bumi 5.9 pada skala Richter selama 57 detik, menurut United States Geological Survey melaporkan 6,2 pada skala Richter. Meskipun hanya 57 detik, namun kedangkalan pusat gempa mampu menghancurkan ratusan ribu rumah dan merenggut korban sekitar 7000 orang.

Jogja berduka dan meminta warganya bersatu untuk bangkit bersama.

Pagi hari itu teman-teman berkumpul spontan untuk mencoba membantu korban bencana sebisa mungkin. Sebenarnya kami tidak tahu harus mulai dari mana, kami mengawalinya dengan patungan uang kami pribadi untuk membuat nasi bungkus. Rumah Marzuki Mohammad (Kill the DJ) dijadikan dapur umum, gudang, sekaligus kantor. Teman-teman yang memiliki mobil dikumpulkan dan mencapai puluhan mobil.

Aksi di minggu pertama adalah pembagian nasi bungkus yang kami masak sendiri. Kemudian mengumpulkan bantuan berupa tenda dan alas tidur untuk rumah dan sekolah sementara, sebab lima hari kemudian, ujian nasional masih tetap berjalan di kawasan bencana. Di hari ketiga UN memulai memasok logistik makanan mentah, lauk pauk, dan alat-alat dapur.

Ketika uang kami habis, kami memulai penggalangan dana dari pihak luar, waktu itu belum ada Facebook dan Twitter, jadi kami melakukan penggalangan bantuan melalui telpon dan email. Kemudian kaos dan bendera United of Nothing dicetak, bukan hanya menghiasi mobil dan posko kami, tapi juga menjadi merchandise yang kelak terjual lebih dari 5.000 pieces.

UN juga memulai kerjasama dengan teman-teman Sekertariat Bersama SAR, membantu operasional mereka dalam evakuasi. Fungsi SAR juga berkembang dengan memetakan daerah-daerah yang belum terjamah oleh bantuan, kemudian informasinya didistribusikan kepada posko-posko yang lain. Di hari ketiga teman-teman relawan SAR, yang sebagian besar adalah mahasiswa pecinta alam, kehabisan dana operasional, UN mengambil inisiatif untuk mencarikan dana operasional bagi mereka.

Di minggu ketiga team UN yang bekerja suka-rela menyusut oleh karena kesibukan masing-masing, tapi UN telah memilih fokus untuk membantu desa Gayamharjo, yang terletak diatas bukit Bokoharjo, dan desa Pereng yang berada dibawahnya. UN dibantu oleh arsitek Eko Prawoto dan team merancang design rumah murah. Eko Prawoto dan team sendiri bekerjasam dengan Dana Kemanusiaan Kompas membangun lebih dari 200 rumah di desa Ngibikan Bantul. Kami mencontoh model tersebut dan melibatkan warga untuk bergotong royong membangun rumah mereka sendiri.

Dari hasil penjualan merchandise UN dan beberapa tambahan sumbangan, kami membangun 10 rumah dan sebuah taman kanak-kanak. Biaya untuk membangun satu rumah menghabiskan 15 s/d 20 juta rupiah, tanpa biaya tukang karena warga yang mengerjakannya sendiri. Di kemudian hari design rumah murah itu dicontoh oleh beberapa warga yang lain setelah mendapat dana bantuan dari pemerintah.

Ini bukan aksi kami sendiri, UN bekerjasama dengan posko-posko bantuan yang lain baik institusi maupun perseorangan, antara lain; Studio Biru di rumah Agus Suwage dan Tita Rubi, Elisabeth Inandiak yang kemudian membina desa Bebekan hingga kini, Dana Kemanusiaan Kompas, Eko Prawoto dengan design rumah murahnya, PT. Djarum, Padepokan Bagong, Azimuth Tour, dan juga kerjasama armada angkut dengan Indonesian Off-road Federation (IOF) untuk menjangkau daerah-daerah sulit.

Rumah boleh roboh, jiwa tetap kokoh.

Secara umum rekonstruksi dan rehabilitasi untuk Gempa Bumi di Yogyakarta, yang dilakukan serentak oleh lembaga-lembaga donor/bantuan baik nasional maupun internasional dibawah koordinasi Pemerintah Daerah berjalan sangat baik. Kami bangga menjadi bagian kecil dari proses kebangkitan tersebut.

Kemudian UN membubarkan diri, untuk kelak bersatu lagi jika situasi memanggil kami.


  • Program-program #UN

    Kami bantu Anda bantu mereka
    Teman-teman membantu #UN untuk membantu para korban #Merapi 2010.

    Bayi, anak, ibu, lansia
    Fokus pembelanjaan donasi uang dan penerimaan bantuan masuk #UN pada kebutuhan bayi, batita, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia.

    Dukung SAR DIY
    Bentuk dukungan #UN untuk SAR DIY beragam mulai dari penggalangan dana operasional; memebuhi kebutuhan perlengkapan lapangan; sampai dengan tenaga dan armada untuk evakuasi.

    Ayo, pekerjakan pengungsi!
    Mengingat masih panjangnya waktu pengungsian yang harus dilalui para pengungsi, apalagi mereka yang rumah dan harta bendanya luluh-lantak akibat erupsi Gunung Merapi; #UN mengajak teman-teman sekalian untuk membantu perputaran roda ekonomi para pengungsi dengan mempekerjakan mereka.

    Code Siaga!
    Bahaya Merapi bukan hanya magma dan awan panas, tetapi juga material berupa pasir dan batu yang dimuntahkannya. Material-material itu belum semuanya turun; karenanya #UN bersama sejumlah teman pecinta alam membangun jaringan kesiagaan warga yang bermukim di bantaran Kali Code.

    Berbagi kasih melalui air bersih
    Sekembalinya para penduduk dari tempat-tempat pengungsian, dampak sekunder erupsi Merapi baru terasa. Bukan hanya rumah penuh abu yang mereka hadapi, tetapi juga saluran air yang kotor atau bahkan rusak total. #UN bekerjasama dengan beberapa teman lainnya untuk membantu memperbaiki atau membangun kembali saluran air mereka.
  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 10 other followers

%d bloggers like this: