Gugur Gunung

02/12/2010 Comments Off on Gugur Gunung

Foto: Dok. Kill the DJ

ayo kanca-kanca ngayahi karyaning praja
kene, kene, gugur gunung tandang gawe
sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lila lan legawa kanggo mulyaning negara
Siji (loro) telu (papat) maju papat papat
Diulung-ulungake mesthi enggal rampunge
Holobis kuntul baris, holobis kuntul baris

“Gugur Gunung”


Pada tanggal 26 Oktober 2010, pukul 17:42, gunung Merapi, salah satu simbol spiritual bagi kraton dan rakyat Yogyakarta, kembali mengalami erupsi, memuntahkan awan material panas disertai wedhus gembel (awan panas) yang merenggut nyawa 15 orang, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, sosok yang menjadi panutan bagi rakyat Yogya dalam kesederhanaan, pengabdian, dan tanggung jawab.

Sontak Yogya berduka, puluhan ribu penduduk lereng Merapi meninggalkan desanya menjadi pengungsi, dan masih akan bertambah lebih banyak lagi jumlah pengungsi dan korban seiring dengan zona aman yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang, yang hingga saat ini mencapai radius 20 kilometer dari puncak Merapi.

Tapi di situlah keistimewaan Yogya kembali diuji. Seperti ungkapan Bung Karno, “Yogya istimewa bukan hanya daerahnya, tapi juga orang-orangnya yang rela berkorban untuk republik.” Warga dari berbagai unsur masyarakat bahu-membahu untuk menolong para pengungsi dan korban. Meminjam istilah Jawa; ‘ora sanak ora kadang, yen mati melu kelangan’ (bukan sanak saudara, ketika mati, kita ikut kehilangan), para peng-ungsi diibaratkan sebagai ‘tamu’ yang harus dilayani, mulai dari gerakan nasi bungkus hingga membuka rumah mereka untuk menampung para pengungsi.

Semangat gotong royong begitu kental, tidak memandang status sosial dan agama. Partisipasi warga yang guyub-rukun dan bahu-membahu untuk menyelesaikan persoalan sepert ini dalam istilah Jawa disebut dengan ‘gugur gunung’. Istilah inilah yang kemudian digunakan sebagai judul sebuah acara konser amal; sebuah undangan terbuka bagi seluruh insan musik di kota Yogya untuk terlibat dan mencoba memberi sumbangan kepada para korban dan pengungsi. Disepakati juga bah-wa hasil dari konser amal Gugur Gunung tersebut akan disumbangkan bukan hanya untuk korban dan pengungsi Merapi, tapi juga untuk korban bencana tsunami di Mentawai, dan banjir di Wasior.

Acara konser Gugur Gunung mungkin tergolong aneh, karena diadakan di kota yang justru sedang dilanda bencana. Tapi hal seperti ini adalah dinamika tipikal kota Yogya. Mirip dengan gempa bumi tahun 2006, dalam situasi bagaimana pun, kehidup-an di-upayakan untuk tetap normal oleh warga, aktivitas ekonomi tetap dijalankan, acara-acara kesenian, pameran, dan konser tetap dilangsungkan. Mungkin hanya acara-acara yang dikerjakan oleh pihak dari luar Yogya yang kemudian dibatalkan.

Gugur Gunung hanya dipersiapkan selama dua hari. Erick Soekamti, frontman band punk asal Yogya, Endank Soekamti, menjadi komandan untuk Gugur Gunung, sementara saya, Kill the DJ, founder Jogja Hip Hop Foundation, menjadi juru bicara dari gerakan ini, dibantu rekan-rekan dari event organizer dan para musisi yang lain. Akhirnya acara berjalan selama tiga hari, 29 – 31 Oktober 2010.

Konser pertama di lapangan Lembah UGM mendapat ujian besar. Di tengah acara, hujan besar tanpa henti ketika baru empat band manggung dari 24 band yang direncanakan. Begitu pula acara hari kedua di tempat yang sama, ujian kembali datang. Kali ini bukan hujan air, tapi hujan abu vulkanik yang melanda wilayah Yogya dan sekitarnya pada malam sebelumnya, acara outdoor menjadi kurang diminati. Alhasil, dua hari konser yang melibatkan 48 band ini hanya mampu mengumpulkan donasi kurang lebih empat juta rupiah.

Tapi seluruh tim Gugur Gunung tidak menyerah, masih ada hari ketiga yang di-plot menjadi andalan acara konser amal ini. Di hari itu, line up adalah band-band dengan nama besar yang mempunyai basis penggemar kuat di kota Yogya, seperti ShaggyDog, Endank Soekamti, Sheila on 7, Letto, SKJ 94, Jogja Hip Hop Foundation, dan banyak lagi. Pada acara yang digelar di Liquid Next Generation Club tersebut itu juga diadakan lelang barang-barang milik artis yang disumbangkan, antara lain topi milik Anji Drive, gitar milik Eet Syahrani, mikrofon milik Tantri Kotak, dan masih banyak lagi.

Penampil demi penampil manggung, lelang demi lelang terjual, dipandu oleh MC Lokal Anang Batas, Gepenk Kesana-Kesini, Alit Jabang Bayi, dan Kunchunk. Acara berlang-sung penuh guyon, kocak, dan meriah khas dagelan Mataram, seperti tidak ada beban bahwa Merapi sedang bergejolak di ujung kota.

Acara malam itu berhasil mengumpulkan donasi sebesar 40-an juta rupiah yang dihasilkan dari penjualan tiket dan lelang. Setelah dikumpulkan dengan donasi dari konser hari pertama dan kedua, juga lelang yang berlangsung hingga seminggu setelah acara, Gugur Gunung berhasil menghimpun total dana 50-an juta rupiah. Sesuai dengan kesepakatan awal yang kemudian menjadi tema acara ini, ‘Dari Yogya untuk Indonesia’, hasil ini akan dibagi untuk sumbangan bencana Merapi, Mentawai, dan Wasior.

Khusus untuk Merapi, rencana awalnya, uang tersebut akan digunakan untuk membangun ulang rumah gamelan di dusun Kinahrejo yang hancur diterjang material panas. Jika ada kekurangan, uang akan ditambah dengan dana yang berhasil dikumpulkan oleh United of Nothing, sebuah komunitas tanggap bencana di Yogya yang saya dirikan sejak 2004. Cita-citanya rumah tersebut akan diberi nama Omah Gugur Gunung, sebagai monumen untuk mengenang semangat gotong royong dan pantang menyerah dari seluruh warga Yogyakarta dan sekitarnya dalam menghadapi bencana.

Tulisan ini dimuat di majalan Rollingstone dan diambil dari tautan ini.

Advertisements

Kenapa Menyumbang Melalui Posko Mandiri?

21/11/2010 Comments Off on Kenapa Menyumbang Melalui Posko Mandiri?

Warga Yogyakarta dan Sekitarnya kembali mengulangi prestasi penanggulangan bencana pada Gempa Bumi 2006. Tanpa komando, tanpa prosedur berbelit, warga bergerak dan kembali membuktikan diri untuk bisa menjadi garda terdepan dalam menolong saudara-saudara kita yang menjadi korban erupsi Merapi. Mereka membuka posko-posko mandiri semampunya, tapi sangat efektif karena mereka langsung bersinggungan dengan korban.

Sungguh sangat menyentuh mendengar bahwa warga menganggap para pengungsi sebagai tamu yang harus dilayani. Membuka rumah-rumah mereka bagi para pengungsi yang membutuhkan. Warga juga tidak terbatas pada teritori administratif. Posko-posko mandiri bisa melintasi batas desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi, dalam mendistribusikan bantuan tanpa harus berpikir prosedur yang rumit. Yang ada dalam spirit kemanusiaan mereka hanya bagaimana semua bantuan bisa segera tersalurkan kepada siapa pun yang membutuhkan. Gerakan natural gotong-royong kemanusiaan semcam ini memang tidak mungkin tertandingi oleh kekuatan apa pun karena sifat ketulusannya.

Sifat ketulusan itu juga tercermin dari bagaimana format sebuah posko atau barak mandiri terbentuk, yaitu kepercayaan (trust) dan niat membantu sukarela tanpa pamrih. Prestasinya bukan piagam tanda jasa, namun sebuah monumen kemanusiaan yang terbangun di dalam jiwa masing-masing, utuh dan tidak lekang tanpa siapa pun bisa menggusurnya.

Sultan HB 10, selaku raja dan gubernur Yogyakarta, dengan rendah hati pernah menyatakan, bahwa pemerintah daerah tidak mampu membantu korban jika tidak dibantu oleh semangat gotong-royong dan kepedulian warga. Mungkin beliau mendapatkan banyak pelajaran berharga dari penanganan bencana gempa bumi 2006. Namun pemerintah pusat, yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terlalu arogan dengan tidak mau memanfaatkan posko-posko dan barak-barak pengungsian mandiri yang didirikan oleh warga untuk diberdayakan dan difasilitasi, minimal adalah kebijakan.

Di sisi lain, BNPB sebenarnya bingung dengan kondisi di lapangan yang selalu berubah, tercermin dari prosedur-prosedur berbelit dan memakan waktu. Tumpukan bantuan di posko-posko resmi pemerintah adalah contoh tidak efektifnya kinerja mereka karena bertolak belakang dengan kondisi pengungsi yang kelaparan. Bahkan mereka seperti sengaja menganaktirikan korban yang tidak tertampung di barak-barak pengungsian resmi dengan pernyataan bahwa mereka yang tidak tinggal di barak resmi tidak akan mendapatkan bantuan dengan dalih efisiensi. Pernyataan itu seperti mengingkari fungsi mereka dalam situasi bencana, yaitu sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom rakyat yang menjadi korban bencana alam.

Sebagai ilustrasi, pada saat erupsi Merapi pertama, masing-masing kabupaten yang mengelilingi Merapi; Sleman, Klaten, Boyolali, Magelang, rata-rata hanya mempunyai simpanan anggaran tanggap bencana sebesar 1 milyar rupiah. Jika hal itu dikonversi dalam kebijakan uang makan bagi pengungsi, misal sehari Rp15.000/orang/hari, maka dana itu akan habis dalam waktu tiga hari saja. Di sisi lain, proses penyaluran dana untuk penanggulangan bencana dari pemerintah pusat butuh waktu dan prosedur berbelit.

Dalam situasi demikian, posko-posko mandiri mengambil perannya yang dalam diam memberi keceriaan nyata

Sekian

Kill the DJ

Tulisan terkait: http://merapi.combine.or.id/baca/10319/berdayakan-posko-mandiri:-seruan-kepada-bnpb–pemerintah-provinsi-diy-%26-pemerintah-provinsi-jawa-tengah.html

Resensi; Lahirnya Kembali Beringin Putih

21/11/2010 Comments Off on Resensi; Lahirnya Kembali Beringin Putih

Buku Lahirnya Kembali Beringin Putih ini menceritakan tentang mitologi yang hidup di Merapi dan dipercaya oleh penduduk desa tersebut. Sebenarnya buku ini sudah diterbitkan sejak 1998 dan sudah banyak resensi yang dipublikasikan di berbagai media. Saya kembali membaca ulang buku ini ketika bersama sahabat saya Elisabeth D Prasetyo, penulis buku ini, menengok para pengungsi dari dusun Kinahrejo, dusun asal Mbah Maridjan, di Tridadi, Sleman, mereka sedang asyik membaca foto kopi buku ini yang dibagikan oleh Marie le Sourd, direktur Lembaga Indonesia – Prancis (LIP/CCF) Yogyakarta. Mereka seolah dibawa kembali ke imipan dusun keramat Kinahrejo, tempat tinggal mereka yang sudah hancur sejak erupsi Merapi pertama 26 Oktober 2010.

Erupsi itu juga seperti merubah tatanan mitologi, karena Kinahrejo sudah binasa, karena Mbah Maridjan sudah tiada, karena Ibu Pudjo sebagai orang yang dianggap paling animis dan memahami roh Merapi juga telah meninggal. Sepertinya akan ada mitologi-mitologi baru yang kemudian lahir, tapi esensinya akan tetap sama, yaitu Merapi yang dipercaya sebagai simbol atas hubungan manusia terhadap Sang Maha Pencipta. Ketika Merapi meletus, penduduk Merapi akan menyebutnya, “Mbah Merapi lagi reresik awake lan manungsa” (Mbah Merapi sedang melakukan pembersihan diri dan manusia). Tentang hal ini, kita bisa membacanya lebih lengkap dalam artikel Sindhunata di Kompas, 21 November 2010; “Gara-gara Mbah Merapi” http://cetak.kompas.com/read/2010/11/20/05050725/gara-gara.mbah.maridjan

Mitos gunung Merapi bukan hanya dongengan, tapi kehidupan penduduk gunung Merapi itu sendiri. Mitos itulah yang membuat penduduk gunung Merapi bertahan hingga kini. Dengan mitos itu pula mereka menentang tantangan dan ancaman dari luar. Mitos itu tidak bisa ditangkap dengan akal. Kata Elisabeth, hanya dengan impian manusia bisa memahami mitos itu. Dan impian itu tidak lain adalah mata Batin, seperti yang dimiliki Mbah Marijan, Ibu Pudjo, dan banyak penduduk lain di Merapi. Jika semuanya hancur, impian itulah yang tersisa; sesuatu yang tidak bisa dihancurkan.

Pohon Beringin dalam tradisi Jawa, adalah simbol kekuasaan, namun juga simbol mengayomi, tempat berteduh bagi jelata. Buku ini ditulis dan diterbitkan seiring ketika rezim orde baru dengan simbol beringin kuningnya; Soeharto dan Golongan Karya, lengser dan tumbang 1998. Jika Beringin adalah simbol kekuasaan dan pengayoman, seharusnya Beringin berwarna putih seperti yang dipercaya penduduk lereng Merapi, bukan kuning. Demikianlah, impian itu dirajut dan terus terjaga di lereng Merapi, sebab impian tidak bisa mati.

Sempatkanlah membaca buku yang di dalamnya ada banyak ilustrasi apik yang dikerjakan oleh Heri Dono ini. Dari hasil penjualan buku Beringin Putih ini, Elisabeth menyumbangkan seperangkat gamelan bagi penduduk Kinahrejo.

ELISABETH & KILL THE DJ

Hubungan saya dengan Elisabeth memang unik, kami saling mengenal sejak 1997, tapi mulai intens berinteraksi sejak saya tinggal di Prancis tahun 2000. Dalam perbincangan, kami bisa ngobrol dari sejarah hip hop hingga spiritualisme Jawa. Dalam buku Le Histoire du Underground (The History of Underground), Elisabeth dicatat sebagai penulis kultur rap music pertama kali. Dia adalah sahabat godfather di Bronx, Afrika Bambatta dan Fredy B. Namun dia juga sahabat Mbah Maridjan. Juga salah satu orang yang sering diundang pada acara ulang tahun Dalai Lama. Bisa anda bayangkan garis waktunya; dari hip hop underground hingga spiritualisme. Dengan Elisabeth pula saya belajar banyak tentang Serat Centhini, yang kemudian beberapa syairnya saya gubah dalam lagu-lagu hip hop. Anda bisa mengunduhnya di sini; http://www.mediafire.com/?jqagdwcdw99pf

Sekian.

Kill the DJ

Every Single Night, Few Seconds Before Getting Sleep

10/11/2010 Comments Off on Every Single Night, Few Seconds Before Getting Sleep

Berikut kenagan evakuasi saya di Merapi tahun 2006. Waktu itu, dua minggu setelah Gempa Bumi di Yogyakarta dan sekitarnya, Merapi mengalami erupsi dan membinasakan daerah Mbebeng. Ketika kejadian saya berada di desa Gayam Harjo, di ujung bukit Boko, selatan Prambanan, sedang membangun taman kanak-kanak sementara dengan penduduk desa karena taman kanak-kanaknya hancur oleh gempa. Tiba-tiba saya mendapatkan telpon dari Asep, teman dari SAR, untuk naik ke lereng Merapi dan membantu evakuasi. Segera saya kemudikan mobil dari bukit Boko di selatan menuju arah utara ke lereng Merapi di ujung Yogyakarta.

Kalau boleh jujur, sebenarnya ini adalah surat untuk pacar Indo-Prancis saya waktu itu. Suratnya dalam bahasa Inggris saya yang jelek dan terbatas, saya tampilkan apa adanya.

Every single night after this disaster, few seconds before getting sleep, I feel wonder how could I held so many jobs rest of the day. It was three weeks and always like that. But what I feel I always get huge supplies of energy after wake up; even it could be an hour sleeping only.

I saw lot of friends in SAR same like what happened on me. Its make me know, what powers mean? It’s not how macho you look like, but how big your spirit; especially at this case, how to express your humanity side.

Yesterday, we found bunker location that was buried by more than 600 Celsius materials from Merapi and needs about 5 meters under the earth to dig, try to rescue people inside the bunker. We didn’t sleep along 36 hours at all, working on more than 80 Celsius temperature on earth, and have to changes your booth and glove because melted.

Finally, we found 2 persons inside bunker, but they were died…

Every single night, few seconds before getting sleep, I need a person to tell everything…

Every single night…

Kill the DJ

Bencana Merapi Pasca Letusan 5/10/2010

08/11/2010 Comments Off on Bencana Merapi Pasca Letusan 5/10/2010

Merapi 14 Novemeber 2010 dari Camera Blackberry saya

Erupsi gunung Merapi 26 Oktober 2010 yang membinasakan desa keramat Kinahrejo, merenggut nyawa pemegang jabatan tradisional dari kraton Yogyakarta, juru kunci merapi Mbah Maridjan, dan 30 nyawa lainnya. Kemudian disusul dengan beberapa erupsi-erupsi yang lain yang memaksa 60.000 warga sekitar lereng gunung Merapi mengungsi meninggalkan rumah dan sawah sejauh 10 KM.

Kemudian terjadi ledakan besar tanggal 5 November 2010, yang membinasakan beberapa desa di bantaran sungai Gendol, merenggut ratusan nyawa manusia yang hingga kini belum diketahui persis jumlah korban meninggal, karena desanya terkubur material panas yang dimuntahkan oleh merapi, kembali memaksa lebih banyak warga untuk pergi mengungsi. Zona aman dirubah menjadi 20 KM dan total pengungsi mencapai 300.000 orang lebih. Titik-titik barak pengungsian selalu berubah dan menyulitkan siapa saja yang hendak membantu mereka.

Ketika ledakan tanggal 5 November 2010, saya naik mengendarai mobil bak terbuka untuk membantu teman-teman SAR melakukan evakuasi, baik untuk yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Saat itu juga saya menyadari bahwa bencana alam kali ini bisa jadi pekerjaan kemanusiaan yang lebih berat dari gempa 2006.

Gempa 2006 telah merenggut nyawa 7.000 orang di Yogyakarta dan Sekitarnya, juga merobohkan rumah puluhan ribu. Saat itu kita dihantam bencana sekali dan langsung bisa mengerti bagaimana step by step cara membantu; logistic, rehabilitasi, rekonstruksi. Warga juga tidak meninggalkan desa mereka, bahkan kita bisa melihat bagaimana mereka masih bisa memanen hasil sawah dan kebun diantara reruntuhan rumah-rumah mereka. Recovery yang dilakukan pun bisa berjalan sangat baik.

Tapi saat ini kita berurusan dengan orang-orang yang meninggalkan rumah dan sawah mereka. Sebagian dari mereka tidak mungkin kembali lagi ke rumah dan sawah mereka yang sudah tertutup material merapi 2 s/d 5 meter, seperti candi-candi purba yang diketemukan terkubur tanah. Sebaran abu vulkanik juga telah membinasakan puluhan ribu hektare sawah dan perkebunan, panen gagal dan baru tiga tahun kemudian tanah kembali bisa diolah. Padahal mereka adalah masyarakat tradisional yang kebanyakan tidak memiliki akun di bank, simpanan dan kekayaan mereka adalah sawah dan ternak.

Tergambar jelas krisis pangan dilereng Merapi tiga tahun kedepan.

Kami hanyalah bagian kecil dari peristiwa-peristiwa ini yang ingin mengambil peran; terlibat untuk menolong korban bencana letusan Merapi.

Tentu saja aksi yang kami kerjakan sedikit banyak menggangu pekerjaan kami sehari-hari. Bagi saya pribadi, aktivitas ini mengganggu persiapan Jogja Hip Hop Foundation yang akan manggung di New York dan San Francisco, juga membuat jadwal editing film documenter kami Hiphopdiningrat (Java Hip Hop) mundur. Apalagi salah satu dari pesonil Jogja Hip Hop Foundation menjadi pengungsi. Tentu teman-teman yang lain di United of Nothing mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Tapi kami benar-benar tidak bisa menyaksikan penderitaan pengungsi tanpa kami berbuat sesuatu untuk mencoba membantu sebisa mungkin.

Kill the DJ

My Evacuation Timeline

07/11/2010 Comments Off on My Evacuation Timeline

Tulisan ini saya susun berdasarkan timeline twitter saya @KILDDJ, ketika saya membantu team Search and Rescue (SAR) DIY melakukan evakuasi tepat ketika Merapi meletus tanggal 5 November 2010 dini hari. Bagi saya, sudah beberapa kali diminta bantuan team SAR sejak bencana gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006. Namun inilah pengalaman terberat melakukan evakuasi, karena juga berkejaran dengan waktu dan situasi yang sangat bahaya sebab muntahan-muntahan material panas dan awan panas dari Merapi. Waktu itu saya ditemani @masgufi, manager artist Frau, juga line producer saya untuk Album Kompilasi Jogja Istimewa, ini adalah pengalaman pertama bagi dirinya terlibat dalam evakuasi, tentu akan menjadi pengalaman berharga sepanjang hidupnya.

Keterlibatan saya di SAR dimulai dengan kepedulian, karena 80% yang terlibat membantu evakuasi adalah sukarelawan mahasiswa-mahasiswa pecinta alam. Waktu itu di hari ketiga evakuasi Gempa Bumi Yogyakarta 2006, mereka sudah tidak punya duit untuk operasional, kemudian saya menawarkan bantuan untuk mencarikan dana operasional.

Baiklah, cerita kita mulai…

Sebelumnya harus saya sampaikan, untuk membuatnya menjadi cerita runut, saya perlu menyusun ulang timeline tersebut, karena kadang ada situasi dimana saya benar-benar tidak bisa nge-twitt, atau karena battery Blackberry saya tiris, maka saya mengambil beberapa tweet setelah saya turun dari lereng Merapi. Beberapa bagian juga seperti cerita terpotong karena saya tidak sempat menyimpannya, saya membiarkannya demikian. Beberapa twittphoto baru bisa saya kerjakan ketika beranjak terang, karena Blackberry saya tidak ada lampu flash-nya, dan saya menghindari mempublikasikan foto-foto korban yang mengerikan.

OPENING

(2:12 AM Nov 5th) Mungkin ini letusan terburuk sejak aku lahir, tp saat ini kita membuktikan, bahwa warga Jogja & sekitarnya istimewa; rela membantu sesama!

FLASHBACK

(Sun Nov 07 2010 13:10:41) Dini hari itu, saya memang tdk punya persiapan evakuasi, tiba2 teman SAR nelpon utk naik membantu menurunkan puluhan ribu pengungsi

(Sun Nov 07 2010 13:14:16) Melihat gelombang arus turun pengungsi, saya kemudian sadar, ini bisa lebih melelahkan dari gempa bumi 2006

(Sun Nov 07 2010 13:16:38) Waktu gempa 2006, kita dihantam sekali, lalu mengerti langkah demi langkah utk membantu; logistik, recovery, rekonstruksi

(Sun Nov 07 2010 13:19:33) Saat ini, kita seperti harus mengulangi setiap hari dari nol langkah demi langkah tersebut, krn setiap saat bisa terjadi relokasi barak

(Sun Nov 07 2010 13:29:05) Gempa 2006 kita msh bs melihat, penduduk desa memanen padi ditengah desanya yg hancur. Skrg hal demikian tidak mungkin.

(Fri Nov 05 2010 18:07:27) Ringankan tangan, langkahkan kaki, kita bantu saudara2 kita yg turun mengungsi ke kota. Buktikan kita bisa!!!

(Fri Nov 05 2010 18:02:56) Keistimewaan warga Jogja & sekitarnya diuji. Mari bergandengan tangan utk membuktikan bahwa kita memang istimewa!

(Sun Nov 07 2010 13:37:00) Senang mendengar bahwa warga kota Jogja mengibaratkan para pengungsi lereng Merapi sbg tamu. Saya bangga menjadi bagian dr kebersamaan ini

MANTRA

(5:41 PM Nov 5th) Mukti utawa mati tetep dadi siji (mulia atau mati tetap bersatu)

(5:41 PM Nov 5th) Ora sanak, ora kadang, yen mati melu kelangan (bukan sanak saudara, kalau mati ikut kehilangan)

EVAKUASI

(2:54 AM Nov 5th) @jalinmerapi Alhamdulillah. Target 30 org terjebak di Wukirsari sdh diatasi truk TNI, standby brsama @masgufi di St.Carolus u/ info lanjutan

(3:35 AM Nov 5th) Pesantren Al Qodir Wukirsari 30an org tidak mau turun selama kyai nya tdk turun cc @jalinmerapi

(3:37 AM Nov 5th) Di timur Al Qodir msh ad 50an org yg tdk mau dievakuasi cc @jalinmerapi

(3:41 AM Nov 5th) Byk warga laki2 bertahan di wukirsari. Tdk mau di evakuasi tp mrk sedia mtr. cc @jalinmerapi

(3:54 AM Nov 5th) Kembali bersama pemilik akun aseli. Td saya nyopir. Pesantren Al Qodir sdh kami laporkan ke aparat. Sbg relawan kami tdk bs memaksa.

(3:57 AM Nov 5th) @jalinmerapi Al Qodir & tanjung laki2, perempuan, anak2. Total 70 org tdk mau dievakuasi. Kami serahkan k aparat & langsung ditindaklanjuti

(4:32 AM Nov 5th) Kami standby di Pakem yg berubah menjadi kota mati. Teman2 SAR menyisir dgn motor ke perkampungan. #UN

(4:58 AM Nov 5th) Kami pindah ke Desa Argomulyo bersama teman2 SAR.

ARGOMULYO, BANTARAN SUNGAI GENDOL

(5:36 AM Nov 5th) Kesibukan kami di Argomulyo hingga sekarang. 10km dari Merapi. Semoga menjadi pelajaran warga yg lain

(6:15 AM Nov 5th) Banyak rumah tertimbun dan hangus.. Mohon para warga bantu kami utk mau dievakuasi 20km dr #merapi..

(8:19 AM Nov 5th) Pandangan dr forerider. Menuju RS Sarjito. Manusia tugasnya berusaha..

(6:12 AM Nov 5th) Akhirnyaaaaa!!! Sampe RS sardjito. Asu forider kami gak ngerti jalan.

(6:23 AM Nov 5th) Kami sdh berada di Sarjito, tp harus naik lg, msh banyak pekerjaan. Yg dibawah sudilah membantu pengungsi, bikin nasi bungkus semampunya

(8:06 AM Nov 5th) Batre tiris. Gak bs update lagi dr atas. Msh ada satu pekerjaan sblm turun. #UN

PENUTUP

(18:42 PM Nov 5th) saya berangkat ke Jakarta dgn perjalanan darat krn airport tutup, besok taping di MetroTV bersama @masbutet & @saykoji

(10:47 AM Nov 5th) terima kasih buat @masgufi yg tlh memutuskan utk menemaniku membantu evakuasi. pasti akan mnjadi pengalaman berharga utk hidupmu, nak.

(10:55 AM Nov 5th) Tadi seorang prajurit nangis & curhat ke @masgufi ‘kmarin sore saya ajak turun tidak mau, hari ini saya mengevakuasinya tanpa nyawa’

(4:29 AM Nov 5th) Terima kasih kepada @ikiAndy utk mobil pick-up nya yg trendy.

Sehari setelah itu, saya koar-koar di timeline twitter untuk meminta sumbangan kepada follower saya untuk membantu operasional dan perlengkapan team SAR DIY, karena banyak sepatu, kaus tangan, goggles dan masker mereka yang rusak, meleleh kepanasan. Dalam tiga hari terkumpul dalam bentuk uang dan barang kurang lebih senilai 40 juta, termasuk bantuan barang dari PT. Kawan Lama / Ace Hardware yang diprovokasi @masbutet setelah mendengar keluhan saya saat shooting di Metro TV. Terima kasih untuk semua followerku yang hebat!!!

(10:43 PM Nov 6th) Sinta-Jojo mau ikut aku pulang ke Jogja tweeps! Mau ikutan mbagi nasi bungkus katanya!

Sekian

Kill the DJ

Where Am I?

You are currently browsing the Catatan-catatan Kill the DJ category at UNITED OF NOTHING.