Gugur Gunung

02/12/2010 Comments Off on Gugur Gunung

Foto: Dok. Kill the DJ

ayo kanca-kanca ngayahi karyaning praja
kene, kene, gugur gunung tandang gawe
sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lila lan legawa kanggo mulyaning negara
Siji (loro) telu (papat) maju papat papat
Diulung-ulungake mesthi enggal rampunge
Holobis kuntul baris, holobis kuntul baris

“Gugur Gunung”


Pada tanggal 26 Oktober 2010, pukul 17:42, gunung Merapi, salah satu simbol spiritual bagi kraton dan rakyat Yogyakarta, kembali mengalami erupsi, memuntahkan awan material panas disertai wedhus gembel (awan panas) yang merenggut nyawa 15 orang, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, sosok yang menjadi panutan bagi rakyat Yogya dalam kesederhanaan, pengabdian, dan tanggung jawab.

Sontak Yogya berduka, puluhan ribu penduduk lereng Merapi meninggalkan desanya menjadi pengungsi, dan masih akan bertambah lebih banyak lagi jumlah pengungsi dan korban seiring dengan zona aman yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang, yang hingga saat ini mencapai radius 20 kilometer dari puncak Merapi.

Tapi di situlah keistimewaan Yogya kembali diuji. Seperti ungkapan Bung Karno, “Yogya istimewa bukan hanya daerahnya, tapi juga orang-orangnya yang rela berkorban untuk republik.” Warga dari berbagai unsur masyarakat bahu-membahu untuk menolong para pengungsi dan korban. Meminjam istilah Jawa; ‘ora sanak ora kadang, yen mati melu kelangan’ (bukan sanak saudara, ketika mati, kita ikut kehilangan), para peng-ungsi diibaratkan sebagai ‘tamu’ yang harus dilayani, mulai dari gerakan nasi bungkus hingga membuka rumah mereka untuk menampung para pengungsi.

Semangat gotong royong begitu kental, tidak memandang status sosial dan agama. Partisipasi warga yang guyub-rukun dan bahu-membahu untuk menyelesaikan persoalan sepert ini dalam istilah Jawa disebut dengan ‘gugur gunung’. Istilah inilah yang kemudian digunakan sebagai judul sebuah acara konser amal; sebuah undangan terbuka bagi seluruh insan musik di kota Yogya untuk terlibat dan mencoba memberi sumbangan kepada para korban dan pengungsi. Disepakati juga bah-wa hasil dari konser amal Gugur Gunung tersebut akan disumbangkan bukan hanya untuk korban dan pengungsi Merapi, tapi juga untuk korban bencana tsunami di Mentawai, dan banjir di Wasior.

Acara konser Gugur Gunung mungkin tergolong aneh, karena diadakan di kota yang justru sedang dilanda bencana. Tapi hal seperti ini adalah dinamika tipikal kota Yogya. Mirip dengan gempa bumi tahun 2006, dalam situasi bagaimana pun, kehidup-an di-upayakan untuk tetap normal oleh warga, aktivitas ekonomi tetap dijalankan, acara-acara kesenian, pameran, dan konser tetap dilangsungkan. Mungkin hanya acara-acara yang dikerjakan oleh pihak dari luar Yogya yang kemudian dibatalkan.

Gugur Gunung hanya dipersiapkan selama dua hari. Erick Soekamti, frontman band punk asal Yogya, Endank Soekamti, menjadi komandan untuk Gugur Gunung, sementara saya, Kill the DJ, founder Jogja Hip Hop Foundation, menjadi juru bicara dari gerakan ini, dibantu rekan-rekan dari event organizer dan para musisi yang lain. Akhirnya acara berjalan selama tiga hari, 29 – 31 Oktober 2010.

Konser pertama di lapangan Lembah UGM mendapat ujian besar. Di tengah acara, hujan besar tanpa henti ketika baru empat band manggung dari 24 band yang direncanakan. Begitu pula acara hari kedua di tempat yang sama, ujian kembali datang. Kali ini bukan hujan air, tapi hujan abu vulkanik yang melanda wilayah Yogya dan sekitarnya pada malam sebelumnya, acara outdoor menjadi kurang diminati. Alhasil, dua hari konser yang melibatkan 48 band ini hanya mampu mengumpulkan donasi kurang lebih empat juta rupiah.

Tapi seluruh tim Gugur Gunung tidak menyerah, masih ada hari ketiga yang di-plot menjadi andalan acara konser amal ini. Di hari itu, line up adalah band-band dengan nama besar yang mempunyai basis penggemar kuat di kota Yogya, seperti ShaggyDog, Endank Soekamti, Sheila on 7, Letto, SKJ 94, Jogja Hip Hop Foundation, dan banyak lagi. Pada acara yang digelar di Liquid Next Generation Club tersebut itu juga diadakan lelang barang-barang milik artis yang disumbangkan, antara lain topi milik Anji Drive, gitar milik Eet Syahrani, mikrofon milik Tantri Kotak, dan masih banyak lagi.

Penampil demi penampil manggung, lelang demi lelang terjual, dipandu oleh MC Lokal Anang Batas, Gepenk Kesana-Kesini, Alit Jabang Bayi, dan Kunchunk. Acara berlang-sung penuh guyon, kocak, dan meriah khas dagelan Mataram, seperti tidak ada beban bahwa Merapi sedang bergejolak di ujung kota.

Acara malam itu berhasil mengumpulkan donasi sebesar 40-an juta rupiah yang dihasilkan dari penjualan tiket dan lelang. Setelah dikumpulkan dengan donasi dari konser hari pertama dan kedua, juga lelang yang berlangsung hingga seminggu setelah acara, Gugur Gunung berhasil menghimpun total dana 50-an juta rupiah. Sesuai dengan kesepakatan awal yang kemudian menjadi tema acara ini, ‘Dari Yogya untuk Indonesia’, hasil ini akan dibagi untuk sumbangan bencana Merapi, Mentawai, dan Wasior.

Khusus untuk Merapi, rencana awalnya, uang tersebut akan digunakan untuk membangun ulang rumah gamelan di dusun Kinahrejo yang hancur diterjang material panas. Jika ada kekurangan, uang akan ditambah dengan dana yang berhasil dikumpulkan oleh United of Nothing, sebuah komunitas tanggap bencana di Yogya yang saya dirikan sejak 2004. Cita-citanya rumah tersebut akan diberi nama Omah Gugur Gunung, sebagai monumen untuk mengenang semangat gotong royong dan pantang menyerah dari seluruh warga Yogyakarta dan sekitarnya dalam menghadapi bencana.

Tulisan ini dimuat di majalan Rollingstone dan diambil dari tautan ini.

Advertisements

midnight.bunny menggambar untuk Merapi

30/11/2010 Comments Off on midnight.bunny menggambar untuk Merapi

 

Ingin punya ilustrasi diri sembari menyumbang untuk Merapi? Hubungi Ariela Kristantina! Seniman muda kelahiran Jakarta ini menyediakan dirinya untuk menggambar potret atau ilustrasi Anda bersama midnight.bunny, karakter boneka kelinci yang kerap muncul dalam karya-karyanya belakangan ini.

Bagaimana caranya mendapatkan ilustrasi-ilustrasi macam ini? Kirimkan foto diri Anda bersama bukti transfer pembayaran pembuatan gambar (dan donasi Anda) ke midnite_ak@yahoo.co.uk :)


Si putih namanya!

25/11/2010 Comments Off on Si putih namanya!

Si putih namanya. Kisah ini hanya sedikit tentangnya. Si putih panggilan sayang kami di Posko #UN untuk pick-up ini! Kendaraan pribadi milik Theresia Agustina Sitompul dan S. Teddy Darmawan ini siap sedia membantu #UN menyisiri Sleman, Klaten, Magelang, Boyolali, dan, bahkan, Gunung Kidul. Si putih sudah mendampingi kami semenjak 30 Oktober 2010.

Tepat tiga minggu kami memforsirnya, akhirnya si putih sakit juga. Setelah tiga hari ‘opname’, hari ini, 25 November 2010, kami mengembalikan si putih ke pemiliknya. Terima kasih banyak Theresia Agustina Sitompul dan S. Teddy Darmawan atas donasi luar biasanya! Tanpa si putih #UN tak mungkin menjelahahi sedemikian banyak tempat! Terima kasih banyak sudah membantu kami membantu mereka!

#UN’s garage sale for Merapi

21/11/2010 Comments Off on #UN’s garage sale for Merapi

Rise from the dust @ Jogja National Museum

Rise from the dust @ Jogja National Museum

Rise from the dust @ Jogja National Museum

Teman-teman #UN menjual sumbangan pakaian dari teman-teman distro untuk dijadikan donasi dalam bentuk lainnya. Garage sale ini diikutsertakan dalam acara musik yang diselenggarakan sejumlah teman-teman DAB Magazine mengadakan konser amal bertajuk “RISE FROM THE DUST”. Sejumlah band lokal terlibat di dalamnya adalah ARMADA RACUN, Belkastrelka, individual life, Paraparanoid, Ruang Maya, SANGKAKALA, SERIGALA MALAM.™, Spider’s Last Moment, Suddenly Sunday, The Frankenstone, etc

Rise from the dust diadakan di:
Jogja National Museum
Thursday ; 18-11-2010,
16.00 – END
Donation 7K (free sticker)
——————-
Bring some extra cash to buy some clothes on garage sale
All your money will be donated for Merapi’s victim through #UN

Nasi Bungkus Dapur Umum Ibu Rulyani

13/11/2010 Comments Off on Nasi Bungkus Dapur Umum Ibu Rulyani

Animo membantu sesama manusia yang sedang menjadi penyintas akibat aktivitas Gunung Merapi ini sungguh luar biasa. Tanpa tedeng aling-aling, warga berusaha menyisir daerah-daerah yang dijadikan tempat pengungsian. Baik itu TPS/TPA resmi ataupun pengungsian-pengungsian swadaya masyarakat.

Pasca erupsi Merapi yang kedua (5 November 2010), gerakan “nasi bungkus” menjadi salah satu cara utama para warga Kodya Yogyakarta menjamu tamu-tamu pengungsi Merapi. Bukan hanya mereka yang semakin ke Selatan (baca: mengungsi ke daerah yang semakin mendekati Kodya Yogyakarta) yang menjadi sasaran jamuan warga kota, tetapi juga par apengungsi di Magelang, Klaten, dan bahkan Boyolali.

Ibu Rulyani pun menggalang warga sekitar rumahnya dan membangun dapur umum dadakan di halaman depan rumahnya. #UN mendapatkan kehormatan untuk mendistribusikan 600 nasi bungkus yang diproduksi Ibu Rulyani dan teman-teman. Mulai dari hari pertama pasca erupsi Gunung Merapi yang kedua sampai dengan lima hari kemudian. Sebanyak 300 nasi bungkus kami antarkan ke sejumlah posko yang membutuhkan setiap waktu makan siang dan makan malam.

Berikut sejumlah lokasi yang sempat mencicipi masakan sedap Ibu Rulyani dan teman-teman:

  • 6 November 2010 (siang)
    Caturharjo (300 bh)
  • 6 November 2010 (malam)
    Caturharjo (150 bh);
    Gereja Kotabaru (150 bh)
  • 7 November 2010 (siang)
    Balai Desa Taji Prambanan (300 bh)
  • 7 November 2010 (malam)
    Ponpes Ali Muhdi (300 bh)
  • 8 November 2010 (siang)
    GKJ Gondang, Klaten (300 bh)
  • 8 November 2010 (malam)
    Balai Desa Ngawen (300 bh)
  • 9 November 2010 (siang)
    Mlati – Jatimulyo (120 bh)
    Karangtanjung (180 bh)
  • 9 November 2010 (malam)
    Candi Gebang Atas (150 bh)
    Kemusuh, Banyurejo, Tempel (150 bh)
  • 10 November 2010 (siang)
    Pandowohargo, Jl Magelang KM 10 (300 bh)
  • 10 November 2010 (malam)
    Kemusuh, Banyurejo, Tempel (150 bh)
    GKJ Gondang, Klaten (300 bh)
  • 11 November 2010 (siang)
    Kemusuh, Banyurejo, Tempel (300 bh)
  • 11 November 2010 (malam)
    Posko Referendum Relawan (300 bh)

Masker gratis #2

05/11/2010 Comments Off on Masker gratis #2

Malam ini kami memutuskan untuk rehat dulu dari kegiatan posko. Bantuan logistik tampak menumpuk di hampir semua TPS/TPA yang kami datangi. Komandan kami baru saja mengajak bersulang untuk kegiatan kami selama sembilan hari belakangan.

Sembari menghabiskan anggur-merah-campur-bir kami nongkrong di pelataran depan WHATEVER Shop, posko kami. Selang beberapa waktu, kilatan api tampak dari arah utara. Kami mulai was-was dan kembali menyalakan HT. Benar saja, hujan kerikil dan pasir sampai ke tengah kota Yogyakarta.

Tanpa komando, sebagian dari kami langsung bergerak mengambil dus-dus masker. Sebagian lainnya menyiapkan helm dan goggle. Komandan kami pun segera menulisi papan tulis dan #UN pun kembali beraksi membagikan masker gratis sekaligus info-info yang kami dapatkan via cenel Balerante.

Kami pun sadar; kami harus bersiap marathon membantu korban Merapi…

Pak Komandan #UN membuat pengumuman dadakan

Supaya orang tak heran keramaian apa yang terjadi di jalanan malam-malam

"Masker! Masker!"

Pemuda setempat (Abubakar Ali) pun akhirnya ikut membantu kami membagikan masker-masker gratis kepada pengguna jalan.

Jl. Abubakar Ali 2, Kotabaru, Yogyakarta 55224

*bloopers*

This picture shows destruction in near to Merapi volcano (back) after the first eruption on October 26, taken from Kaliadem village on the slope of Merapi mountain in Sleman on October 31, 2010. Indonesia's most active volcano which had claimed at least 36 lives last week spewed more searing clouds of gas and ash on October 31, triggering fresh panic among locals. (ADEK BERRY/AFP/Getty Images)

Masker gratis #1

31/10/2010 Comments Off on Masker gratis #1

Picture taken from Balerante village in Klaten shows Merapi volcano releasing ash clouds on November 1, 2010. Indonesia's most active volcano which has claimed at least 36 lives last week spewed more searing clouds of gas and ash on October 31, triggering fresh panic among locals. (ADEK BERRY/AFP/Getty Images)

Donasi masker

Tengah kota Yogyakarta 2010; hujan abu pertama

Masker gratis buat semua

"Ayo, pakai masker! Abu vulkanik nggak asyik!"

Where Am I?

You are currently browsing the Kami bantu Anda bantu mereka category at UNITED OF NOTHING.