11/12/10

11/12/2010 Comments Off on 11/12/10

terima 3000 karung untuk tanggul code siaga dari Langgeng Art Foundation


Advertisements

Waspada Bahaya Sekunder Merapi

02/12/2010 Comments Off on Waspada Bahaya Sekunder Merapi

Material batu di hulu Kali Code tampak melompat hingga ke atas jembatan.
TRIBUNNEWS.COM/BATI BUWONO

Kamis, 2 Desember 2010 | 22:09 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Bahaya sekunder pascaerupsi Gunung Merapi, yaitu banjir lahar dingin, harus terus diwaspadai.  Hal ini terutama bagi warga di dekat bantaran sungai yang berhulu di gunung itu.

“Oleh karena itu, di sungai tersebut dipasang alat peringatan dini banjir lahar dingin yang mampu mendeteksi jika terjadi banjir,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, di Yogyakarta, Kamis (2/12/2010).

Dalam sarasehan dengan tema “Sinergi Media dan Masyarakat Pulihkan Daerah Bencana Letusan Gunung Merapi di Yogyakarta”, ia mengatakan bahwa sungai di Yogyakarta yang berhulu di Gunung Merapi adalah Boyong, Gendol, dan Kuning.

Alat tersebut, menurut dia, mampu mengirimkan pesan singkat ke telepon seluler (SMS) yang memberitahukan bahwa terjadi banjir.

“Namun, pesan singkat tersebut hanya dikirim kepada pemangku kepentingan bencana Merapi, di antaranya bupati dan wali kota,” kata Surono.

Bahaya sekunder tersebut tidak kalah dahsyatnya dengan erupsi Merapi karena saat ini ada sekitar 150 juta meter kubik material vulkanik yang memenuhi sungai-sungai yang berhulu di gunung itu.

Jika terjadi hujan dalam waktu lama di puncak Merapi, endapan material vulkanik di sungai lereng gunung ini bisa terbawa aliran air meluncur dan masuk ke sungai di bawahnya, di antaranya Sungai Code.

“Oleh karena itu, warga yang bermukim di sekitar bantaran sungai-sungai tersebut harus selalu waspada,” kata Surono.

Ketua Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) RA Anggraeni Notosrijoedono mengatakan, penanganan terhadap setiap bencana yang terjadi di setiap provinsi di Indonesia tidak sama, tergantung di mana bencana terjadi.

Selain itu, menurut dia, penanganan juga tergantung pada budaya, karakter, kebiasaan, dan nilai-nilai yang dianut di wilayah bencana. Adapun penanganan bencana di daerah rawan bencana dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu sebelum terjadi bencana perlu ada simulasi, brosur, dan penerangan tentang bencana secara rutin di daerah rawan bencana.

Saat terjadi bencana, kata dia, perlu diusahakan agar warga tidak panik. “Untuk itu perlu penyuluhan tentang bencana kepada mereka, dan setelah terjadi bencana juga perlu dibuat wilayah binaan,” katanya.

Kawasan Code Dilanda Krisis Air Bersih

02/12/2010 Comments Off on Kawasan Code Dilanda Krisis Air Bersih

PASCA BANJIR LAHAR DINGIN MERAPI

Laporan Wartawan Tribun Jogja

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Kawasan bantaran Kali Code Yogyakarta krisis air bersih. Hampir semua air sumur tercemar akibat banjir lahar dingin Merapi. Air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtamarta pun keruh dan berbau. Hingga hari ini, Kamis (2/12/2010), berdasarkan pantauan Tribun Jogja, masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

“Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, saya harus membeli air mineral kemasan galon,” kata Nunik (41), warga Kampung Kembangan, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Ia mengaku sampai sekarang belum ada bantuan air bersih di kampungnya. Padahal, masyarakat Code sangat memerlukannya.

“Saya sendiri sudah tidak mampu lagi beli air mineral kemasan galon,” katanya.
Nunik mengungkapkan pendapatan keluarganya pas-pasan. Gaji suaminya yang hanya Rp 400.000 per bulan habis untuk mencukupi kebutuhan hidup dan sekolah kedua anaknya. Untuk menopang ekonomi keluarga, dia harus menjual makanan dengan menitipkannya ke warung angkringan. Paling banyak, dia hanya memperoleh Rp 25.000 per hari.

Ketua RT Kampung Kembangan Surtini mengatakan, hampir semua kepala keluarga di kampungnya memakai air mineral kemasan galon untuk keperluan minum. Sementara itu, kebutuhan memasak serta mandi, cuci, dan kakus (MCK) tetap menggunakan air dari PDAM.

“Air PDAM yang akan dipakai mandi harus diendapkan satu malam dulu agar tidak terkena penyakit kulit,” ucapnya.

Persoalan air bersih juga dialami warga Kampung Ledok Tukangan, Kelurahan Tegal Panggung, Kecamatan Danurejan. Ketua RW 02 kampung setempat, Sukirman, mengungkapkan, pencemaran air sumur di daerahnya parah. Airnya berbau dan keruh.

Ada 11 sumur yang ada di kampungnya. Enam sumur tercemar material lahar dingin Merapi. Airnya tidak bisa lagi digunakan untuk konsumsi. Sementara itu, tingkat pencermaran di lima sumur lainnya rendah dan masih bisa dikonsumsi. “Lima sumur ini digunakan 250 kepala keluarga,” ungkapnya.

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan bahwa pihaknya akan segera menyuplai air bersih buat warga di sekitar Kali Code. “Kami akan membuat tandon air di Kawasan Code. Tandon itu akan diisi air bersih oleh PDAM Tirtamarta Yogyakarta,” katanya.

Pihaknya juga akan memperbaiki saluran air minum yang rusak akibat banjir lahar dingin Merapi. Saluran air untuk kepentingan umum akan mendapat prioritas utama. “MCK yang rusak akibat diterjang banjir lahar dingin juga akan kami perbaiki secepatnya. Dalam jangka pendek, kami akan membuat MCK darurat,” paparnya.

Delapan Jembatan Tahan Hantaman Lahar

02/12/2010 Comments Off on Delapan Jembatan Tahan Hantaman Lahar

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Sigit Widya, Galih Priatmodjo

JOGJA, KOMPAS.com-– Masyarakat di sepanjang bantaran Kali Code, Yogyakarta, khawatir terhadap kondisi infrastruktur delapan jembatan yang dilalui aliran Kali Code, pascabencana banjir lahar dingin Merapi.

Kekhawatiran masyarakat itu muncul setelah mereka merasakan getaran saat terjadi banjir besar empat hari lalu. Seperti diberitakan, banjir lahar dingin telah berimbas terhadap infrastruktur jembatan dan dua talud di Kotabaru dan Jetisharjo Cokrodiningratan, 29 November 2010.

Meluapnya air ke permukiman warga disebabkan karena adanya jembatan-jembatan kecil yang semula difungsikan untuk menyaring sampah di aliran Code. Proyek Pemkot Yogya dibangun sekitar 2008 justru membuat material dan sampah hanyut tertahan di badan jembatan kecil.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rani Syamsinarsi menegaskan, delapan kondisi jembatan utama yang melintang di Kali Code, yaitu Jembatan Sardjito, Gondolayu, Kewek, Jambu, Juminahan, Sayidan, Tungkak dan Wirosaban, sampai saat ini masih aman.

“Kami bersama Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogya telah melakukan pengecekan jembatan-jembatan. Kondisinya aman, namun kami terus memantau,” papar Rani saat ditemui Tribun Jogja disela rapat koordinasi di Kantor DPRD DIY, Kamis (2/12).

Hanya saja, Rani mengimbau masyarakat di sepanjang Sungai Code tetap waspada. Itu terkait kondisi talud yang mulai tererosi air. Bahkan, beberapa talud telah longsor diterjang arus air dan material lahar dingin Gunung Merapi.

Menurutnya, ada tujuh talud yang rusak, di antaranya talud di Kotabaru, Tegalpanggung, sisi selatan jembatan Sayidan bagian barat, sisi selatan jembatan Tungkak bagian barat, dan sisi selatan jembatan Wirosaban.

Kabid Bina Marga Dinas PUP ESDM Provinsi DIY Ir Salamun menjamin bahwa sejumlah jembatan tetap aman.“Meningkatnya debit air di Kali Code tidak akan mempengaruhi kondisi jembatan yang ada di kawasan sungai,” tegasnya.

Menurut Salamun, selama aliran air dari Sungai Gendol tidak membawa material besar, tidak akan mempengaruhi perubahan pada konstruksi jembatan. “Rancangan jembatan menggunakan material yang tahan lama. Kami memakai bahan konstruksi beton (asblits) dan rangka baja.”

Sebagai antisipasi dan penanggulangan bencana longsor itu, Pemerintah Provinsi DIY akan merekonstruksi talud dan pengerukan sedimen di Sungai Code. Upaya itu diharapkan mampu memberikan ruang aliran air. Berdasarkan pantauan Tribun Jogja di lapangan, Kamis (2/12) siang, sebuah back hoe diturunkan ke Kali Code untuk mengeruk gundukan pasir yang ada di tengah-tengah sungai.

 

Nasi bungkus untuk gotong royong Code Siaga

30/11/2010 Comments Off on Nasi bungkus untuk gotong royong Code Siaga

Laporan yang diambil dari timeline Twitter komandan #UN, Daruaji Wicaksono, (@tahibabal) mengenai banjir Kali Code, 29 November 2010.

***singkatan dalam tweet-tweet berikut dituliskan lengkap untuk mempermudah pembacaannya; logat yang dihadirkan dalam tatanan kalimat tidak dihapus untuk mempertahankan gaya penutur cerita***

17:48 AM Nov 29th
RT @wowogombel: Sungai dibelakang kantor teraliri lahar dingin yg cukup byk.. Suaranya serambi emms

18:02 AM Nov 29th
#lapUN Stand by di Posko. Tunggu instruksi Asep yg di lapangan. Ini tanggul jebol membanjiri lahan di Banteng, Jakal http://plixi.com/p/59911811

18:06 Nov 29th
#lapUN 18.05 Arus Sungai Boyong di belakang Banteng mulai menyusut. Laporan dari Kak Moko via @giyatgiyut

19:29 Nov 29th
#lapUN Sebaiknya warga Jogja menghindari Jembatan Kewek, wilayah Kotabaru. Macet, tweeps.

19:33 Nov 29th
#lapUN Meluncur ke Jembatan Ngenthak. Merapat bantu warga evakuasi. Posko #UN beli nasi bungkus 300 bungkus buat pengungsi malam ini.

21:38 Nov 29th
Bisa bantu @nikiYK cari nasi bungkus? Kami sedang meluncur ke Jembatan Ngenthak. Nanti dikode-kode RT @badjubarat: @tahibabal info sukawan, kak?

21:47 Nov 29th
Semenara waktu ini bisa bantu @nikiYK @auliaanindita? Perlu 300 nasi bungkus dan baru dapat 50 RT @pporicrazy: @tahibabal Posisi dimana, mas? Ada pergerakan yang bisa dibantu?

23:18 Nov 29th
ET @beginu: RT @candramalik: Awas #Merapi belum dicabut, rakyat masih di pengungsian, rekonstruksi belum dimulai, Code banjir, kok malah ngisu Monarki!

00:18 Nov 30th
#lapUN Mendistribusikan bantuan Siaga Code ke Kelurahan Suryatmajan RW 13. 150 nasi bungkus , 6 karton air mineral, dan 50 sarung.

00:22 Nov 30th
#lapUN Mendistribusikan bantuan Siaga Code ke Kelurahan Prawirodirjan RW 13. 150 nasi bungkus, 9 karton air mineral, dan 100 sarung.

#lapUN : drop bantuan banjir x code, beras-tikar-sarung ke jogoyudan RW12

02:27 Nov 30th
#lapUN Koordinasi dan evaluasi Siaga Code (bahaya lahar dingin Kali Code) dengan Asep – Badhak hingga el Clasico

Mengapa perlu siaga?

28/11/2010 Comments Off on Mengapa perlu siaga?

Dampak erupsi Gunung Merapi belum selesai sampai di sini. Bukan hanya soal sekian ribu pengungsi yang sekarang dipusatkan di Stadion Maguwohardjo, tetapi juga bahaya sekundernya. Seperti makna katanya, hal-hal “sekunder” mau tak mau dinomor-duakan. Bukan berarti hal-hal sekunder ini harus serta-merta diutamakan, kami selaku warga kota Yogyakarta hanya merasa berkewajiban untuk mengingatkan sesama warga. Bahaya sekunder erupsi Merapi itu ada; bahaya sekunder erupsi Merapi itu banyak bentuknya; dan ia tak kalah membahayakannya dengan letusan atau magma yang sudah berkali-kali dimuntahkan Gunung Merapi pada 2010 ini.

Salah satunya adalah: “lahar dingin”, “banjir lahar”, “lahar hujan”, atau apalah istilah yang digunakan masyarakat sekarang. Yang mana istilah yang benar bukan fokus tulisan ini. Yang penting adalah masyarakat yang hidup di bantaran kali-kali yang menjadi jalur ‘pembuangan’ material Gunung Merapi sadar akan adanya kemungkinan bahaya ini, kemudian siaga menghadapinya. Siaga artinya siap sedia. Siaga bukan was-was; walau siaga ‘dekat’ (maknanya) dengan waspada. Bagaimana caranya untuk siaga tanpa was-was? Berikut contoh dampak “lahar dingin” selaku bahaya sekunder pada saat erupsi Gunung Merapi 1994 lalu. (Perhatikan tanggal pengambilan foto; dalam waktu yang sedemikian singkat, material erupsi Merapi ‘mengisi’ Jembatan Boyong yang tingginya kurang lebih 80 meter.)

Jembatan Boyong, Desember 1994

Jembatan Boyong Februari 1995

Bersama oleh sekelompok teman pecinta alam, kami mulai menelusuri kampung-kampung di sepanjang bantaran Kali Code. Kami berbagi informasi mengenai bahaya sekunder Merapi. Mulai dari apa itu “lahar dingin”; material apa saja yang di bawanya; jalur mana saja yang akan dilalui oleh “lahar dingin” Gunung Merapi; indikator kedatangan “lahar dingin”; sampai dengan bagaimana cara menanggapinya.

Kami pun mendatangi sesama warga untuk berbagi. Kami jelas tak mampu membekali setiap tempat yang kami kunjungi dengan alat komunikasi terkini yang bisa mempermudah warga menerima informasi pemantauan hulu Kali Code. Bukan hanya alatnya yang tak mampu kami bawakan, tetapi bahkan jaringan mapan yang resmi pun belum ada. BNPB atau instansi apapun yang terkait belum menyediakan saluran resmi pemantauan kali-kali yang menjadi jalur “lahar dingin” Gunung Merapi. Sebagai sesama warga, kami hanya bisa berbagi kepedulian sebagai sesama manusia sembari mengajak warga untuk siaga secara mandiri.

Yang kami tawarkan hanyalah jaringan sederhana yang perlahan-lahan kami kembangkan sebagai pusat informasi pemantauan dari Jembatan Ngentak, Sleman, terusan Kali Boyong yang merupakan hulu dari Kali Code. Jaringan sederhana yang sudah kami bangun adalah laporan via SMS mengenai kondisi hulu Kali Boyong yang secara rutin dikirimkan setiap jam; dan juga laporan per telepon apabila kondisi di atas dinilai cukup membahayakan. Apabila pada waktunya nanti BNPB atau instansi pemerintah apapun kemudian menjalankan perannya, kami selaku warga sudah siap berkoordinasi.

Misi sederhana kami adalah:
1) Memberitahukan warga bantaran Kali Code bahwa bahaya sekunder ini ada dan bukan merupakan sesuatu yang perlu ditakuti. Yang perlu dilakukan warga bantaran Kali Code adalah siaga menghadapi kemungkinan terjadinya banjir akibat “lahar dingin” tersebut.
2) Menjadi sumber informasi terpusat bagi warga bantaran Kali Code. Informasi terpusat ini diharapkan dapat mengurangi tingkat keresahan warga yang sering kali muncul karena berita-berita miring di televisi atau sebaran SMS yang tidak bertanggungjawab.

Terus bantu kami membantu mereka!

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Code Siaga at UNITED OF NOTHING.